MUNASABAH AL-QUR'AN



MUNASABAH AL QUR’AN
MAKALAH



Dosen :
Prof.Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I
Disusun oleh :
Arya Hafizh Mahardhika
(B95219090)


JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2019

KATA PENGANTAR
Pertama, marilah kita panjatkan segala puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam membuat makalah ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik sesuai waktu yang ditentukan. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi al-Qur’an. Seperti yang diketahui bahwa Al-Qur’an memiliki makna dan arti yang sangat dalam. Karena itu, dalam makalah ini membahas tentang Ayat-ayat al-Quran, khususnya Munasabah al-Qur’an (keterkaitan antar ayat dan surat).
Penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata kuliah Studi al-Qur’an, dan asisten dosen ibu Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah membantu selama proses pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Karena itu, saran dan kritik yang membangun senantiasa penulis harapkan demi perbaikan makalah ini di kemudian hari. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.


DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................................... 1
Daftar Isi............................................................................................................................ 2
BAB I Pengertian Munasabah........................................................................................... 3
BAB II Macam - macam Munasabah................................................................................ 9
BAB III Cara – cara Mengetahui Munasabah.................................................................. 20
Kesimpulan....................................................................................................................... 22
Daftar Pustaka................................................................................................................... 24

BAB I
PENGERTIAN MUNASABAH
            Menurut bahasa, Al–Munasabah berarti keserasian dan kedekatan [1]. Selanjutnya Quraish Shihab menyatakan (menggaris bawahi As-Suyuthi) bahwa munasabah adalah adanya keserupaan dan kedekatan di antara berbagai ayat, surah, dan kalimat yang mengakibatkan adanya hubungan.[2] Hubungan tersebut dapat berbentuk keterkaitan makna antar ayat dan macam-macam hubungan, atau kemestian dalam pemikiran (nalar).
            Selain itu adapula pengertian munasabah secara linguistik artinya ialah : pendekatan, dikatakan si Fulan mirip si Fulan., maksudnya ia menyerupainya baik dalam sebab maupun qiyasnya, maka ia disebut sebagai penyifatan terhadap hal yang serupa. Atau sifat yang mendekti secara hukum, maka dikatakan munasabat ialah perkara yang masuk akal.
            Menurut terminologinya yang dimaksud dengan Munasabah ialah : adanya hubungan anatara satu susunan kata dengan susunan kata lain dalam al-Qur’an, atau melalui makna yang berhubungan dengannya seperti aam dan khas, reasonable, atau karena hukum kausalitas dan sebagainya.[3]
            Munasabah dalam pengertian bahasa adalah cocok, patut atau sesuai, mendekati. Jika dikatakan A munasabah dengan B, berarti A mendekati atau menyerupai B.



[1] M. Quraish Shihab. Wawasan Alquran, (Bandung. Mizan, cet IV, 1996), hlm 319.
[2] Ibid hlm 319
[3] M. Shalahudin Hamid, Study Ulumul Quran, Jakarta, PT Intimedia Cipta Nusantara, 2007, hlm 291

Dalam pengertian istilah ada beberapa pendapat. Menurut Manna’ Al Qathan, munasabah adalah segi-segi hubungan antara satu ayat, antara satu ayat dengan ayat lainnya, atau antara satu surat dengan surat yang lain.  
M. Hasbi Ash Shiddieqy membatasi pengertian munasabah dengan ta’wil.7 Az Zarkasyi dan As Sayuthi merumuskan bahwa yang dimaksud dengan munasabah ialah hubungan yang mencakup antarayat ataupun surat.
Dalam pengertian istilah, munasabah diartikan sebagai ilmu yang membahas hikmah korelasi urutan ayat al–Qur’an. Munasabah adalah usaha pemikiran manusia dalam menggali rahasia hubungan antarayat atau surat yang dapat diterima oleh akal. Dengan demikian diharapkan ilmu ini dapat menyingkap rahasia Ilahi, sekaligus sanggahan–Nya, bagi mereka yang meragukan keberadaan Al–Qur’an sebagai wahyu.[1]
Atau adapula pengertian lain, secara etimologi, munasabah semakna dengan musyakalah dan muqarabah, yang berarti serupa dan berdekatan. Secara istilah, munasabah berarti hubungan atau keterkaitan dan keserasian antara ayat–ayat Al–Qur’an.
Ibnu Arabi, sebagaimana dikutip oleh Imam As–Sayuti, mendefinisikan munasabah itu kepada “Keterkaitan ayat–ayat al–Qur’an antara sebagian yang lain, sehingga ia terlihat sebagai suatu ungkapan yang rapid an sistematis.”11 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa munasabah adalah suatu ilmu yang membahas tentang keterkaitan atau keserasian ayat–ayat al–Qur’an antara satu dengan yang lain.12  Berdasarkan kajian munasabah, ayat–ayat al–Qur’an dianggap tidak terasing antara satu dari yang lain. Ia mempunyai keterkaitan, hubungan, dan keserasian. Hubungan itu terletak terletak antara ayat dengan ayat, antara nama surah dengan isi surah, awal surah dengan akhir surah, antara kalimat – kalimat yang terdapat dalam setiap ayat, dan lain sebagainya.[2]
Adapun dalam penjelasan mengenai munasabah yang lain, M. Quraish Shibab mengatakan, “ Saya tertarik dengan tokoh ini karena ia hampir terbunuh gara-gara kitab tafsirnya.” Al-Baiqa’I juga dinilai oleh banyak pakar sebagai ahli tafsir yang berhasil menyusun suatu karya yang sempurna dalam masalah korelasi antara ayat-ayat dan surah al-Qur’an. Ada juga yang menilai bahwa kitab tafsirnya merupakan ensiklopedia mengenai munasabah al-Qur’an. Quraish Shihab menambah satu keterangan lagi, yaitu hubungan kandungan surah dengan surah berikutnya. Keserasian yang dimaksud adalah hubungan kata demi kata dalam satu ayat, hungan antara kandungan ayat dan fashilah (penutup ayat), hubungan ayat dengan ayat berikutnya, hubungan mukadimah satu surah dengan penutupnya, hubungan penutup satu surah dengan mukadimah surah berikutnya, serta hubungan kandungan surah dengan surah sesudahnya.[3]
Selain itu pengertian munasabah berarti persesuaian atau hubungan atau relevansi, yaitu hubungan atau persesuaian antara ayat atau surat satu dengan ayat atau surat yang sebelumnya atau sesudahnya. As – Suyuti berpendapat; al-munasabah berarti al-munashakalah (keserupaan) dan al-muqarabah (kedekatan).15 Misalnya Fulan “yunasib” Fulan, berarti si A mempunyai hubungan dekat dengan si B dan menyerupainya. Dari kata ‘yunasib’ ini lahir pula kata “an-Nasib” berarti kerabat yang mempunyai hubungan seperti dua orang bersaudara. Karena itu sebagian pengarang menanamkan ilmu ini dengan: “ilmu tanasub al-ayat wa as-suwar” yang artinya ilmu yang menjelaskan persesuaian antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang lainnya.
Menurut istilah munasabah atau ‘ilmu tanasub al-ayat wa as-suwar ialah ilmu untuk mengetahui alasan – alasan penertiban dari bagian–bagian Al-Qur’an yang mulia. Ilmu ini menjelaskan tentang segi–segi hubungan antara beberapa ayat atau beberapa surat al-Qur’an. Perngertian munasabah ini tidak hanya sesuai dalam arti sejajar dan paralel saja, melainkan yang kontradiksipun termasuk munasabah. Sebab ayat-ayat al-Qur’an itu kadang–kadang merupakan “takhis” (pengkhususan) dari ayat yang umum, kadang–kadang sebagai penjelas hal hal yang kongkrit terhadap hal - hal yang abstrak.[4]
Masing–masing ayat al–Qur’an memiliki keterkaitan satu sama lain (munasabah). Demikian juga keterkaitan antar surat. Keterkaitan (munasabah) ini bukan berasal dari petunjuk Nabi SAW, melainkan dari hasil pemikiran para ulama secara mendalam. Keterkaitan antar ayat dan surat dalam al–Qur’an didasarkan pada pemahaman bahwa teks merupakan kesatuan bentuk yang bagian–bagiannya saling terkait (Nasr Hamid Abu Zaid, 2001:215). Sebagai contoh, sebuah buku akan sulit dipahami bila ada satu atau beberapa bab yang hilang. Setiap penulis buku mengusahakan agar terjadi keterkaitan antara kalimat, antar alinea, antar sub-bab, dan antar bab. Keterkaitan ini dimaksudkan untuk “menjadi bagian–bagian dari sebuah pernyataan saling berkait, sehingga penyusunannya menjadi seperti bangunan yang kokoh yang bagian – bagiannya tersusun harmonis” (Badr al–Din al–Zarkasyi, 1972: 35 – 36).[5]
Selain itu adapula munasabah menurut bahasa berarti persesuaian atau hubungan atau relevansi yaitu hubungan atau persesuaian antara ayat atau surat satu dengan ayat atau surat yang sebelumnya atau sesudahnya. As–Sayuti berpendapat; munasabah berarti al–musyakalah (kesurupaan) dan al-muqarabah (kedekatan).18 Misalnya si Fitri “yunasib” Fitri, berarti si A mempunyai hubungan dekat dengan si B dan menyerupainya. berasal dari kata "an–nasib” berarti kerabat yang mempunyai hubungan seperti dua orang bersaudara. Karena itu sebagian pengarang menamakan ilmu ini dengan : “ Ilmu Tanasub al–Ayat Wa as-Suwar” yang artinya yaitu ilmu yang menjelaskan persesuaian antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang lainnya.[6]
Dalam kutipan lain juga menyebutkan bahwa munasabah Al-Qur’an yakni keserupaan atau kedekatan di antara berbagai ayat, surat, dan kalimat yang mengakibatkan adanya hubungan.[7]



[1] Muhammad Chirzin, Permata Qur’an, Yogyakarta, CV. Qalam, 2003, 1, hlm 49.
[2] Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, Jakarta, Amzah, 2014, 2, hlm 96
[3] Hasani Ahmad Said, Diskursus Munasabah Al Quran Dalam Tafsir Al-Misbah, Jakarta, Amzah, 2015, 1, hlm 156-157
[4] Bahan Ajar Studi Al-Qur’an, Surabaya, UIN Sunan Ampel Press, 2018, 8, 281-282
[5] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, Surabaya, IMTIYAZ, 2018, 3, hlm104
[6] Sauqiyah Musyafa’ah, Studi Al-Qur’an, Surabaya, USAP, 2013, 3, hlm 217-218
[7] Nasr Hamid Abu Zayd, Tekstualitas Al-Qur’an, Yogyakarta, LKiS Yogyakarta, 2016, 1, hlm 199

BAB II
MACAM-MACAM MUNASABAH
Berdasarkan pengertian di atas, munasabah atau keterkaitan ini dapat dibedakan menjadi beberapa macam. Menurut sumber buku ulumul quran yang ditulis oleh Drs. Abu Anwar, M.Ag menyatakan bahwa macam macam munasabah terdiri atas 4 bagian yakni:
1.      Munasabah antara kandungan suatu ayat dalam suatu surah dengan suatu ayat pada surah sesudahnya.

Surah–surah yang ada dalam Al–Qur’an mempunyai munasabah, sebab surah yang dating kemudian menjelaskan beberapa hal yang disebutkan secara global pada surah sebelumnya (As Suyuthi). Misalnya Surah Al Baqarah memberikan perincian serta penjelasan terhadap surah Al Fatihah. Sedangkan surah Ali Imran yang merupakan urutan surah berikutnya memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap kandungan Surah Al Baqarah, yaitu ancaman Allah terhadap orang orang kafir karena pengaruh harta dunia. Ayat dari surah–surah tersebut berbunyi :
ا لحمد لله ر ب العا لمين
فا ذ كفر و أ ذ كر كم
إن الذ ين كفر و الن تغني عنهم أموالهم ولا أولادهم من الله شيعا وأولئك هم وقودالنا ر
Artinya :
1.      “Segala puji untuk Allah Tuhan semesta alam” (QS. Al - Fatihah: 2)
2.      “Ingat kepada–Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu”, (QS. Al Baqarah: 152)
3.      “Sesungguhnya orang orang kafir, harta, benda dan anak anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak siksaan neraka yang disediakan Allah. Dan mereka adalah bahan bakar api neraka” (QS. Ali Imran: 10)

2.     Munasabah antara surah dalam bentuk tema sentral
Selain dari itu, munasabah dapat membentuk tema sentral yang ada dalam berbagai surah. Misalnya surah Al Fatihah tema sentralnya adalat ikrar ketuhanan. Dan dalam surah Al Baqarah tema sentralnya adalah kaidah–kaidah agama. Sedangkan surah Ali Imran tema sentralnya adalah dasar–dasar agama. Kesemuanya itu merupakan pondasi bagi umat Islam dalam beramal, baik amal dalam makna sempit maupun amal dalam makna luas.
3.      Munasabah antara ayat terakhir dalam surah dengan ayat pertama dalam surah berikutnya
Contoh dari munasabah model ini antara lain ayat terakhir dari Surah Al Ahqaf dengan ayat pertama dari surah Muhammad. Dalam ayat terakhir (35) Surah Al Ahqaf disebutkan :
كأ نهم يوم يرون ما يو عد ون لم يلبثوا إلا سا عة من نها ر يلا غ فهل يهلك إلا قوم الفا سقو ن
….. Pada hari mereka melihat azabyang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak binasakan kecuali kaum yang fasiq.
Dan dalam ayat pertama Surah Muhammad difirmankan:
الذ ين كفر وا وصدّ واعن سبيل الله أضلّ أعما لهم
(Yaitu) orang–orang yang kafir dan menghalang-halangi dari jalan Allah, Allah menghapus segala amal–amal mereka.

Dalam ayat terakhir surah Al–Ahqaf tersebut dijelaskan tentang ancaman siksa bagi orang–orang fasiq itu, ada pada ayat pertama Surah Muhammad, yaitu orang orang kafir dan orang orang yang menghalang–halangi manusia dari berbuat kebaikan. Contoh tersebut menunjukkan bahwa untuk memahami secara jelas makna yang ada pada ayat terakhir surah Al Ahqaf harus dimunasabahkan dengan ayat pertama Surah Muhammad. Dengan kata lain apabila suatu ayat belum jelas maknanya,maka pasti ada penjelasan itu pada surah lain.

4.       Munasabah karena adanya keterkaitan atau adanya suatu peristiwa.
Contoh munasabah dalam bentuk ini adalah seperti terdapat pada Surah Al Baqarah ayat 245 dengan Surah Ali Imran ayat 181. Pada surah Al Baqarah ayat 245 yang artinya : “ Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah, dengan pinjaman yang baik (menafkahkan harta di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan berlipat ganda. Allah menyempitkan dan melapangkan rezeki dan kepada-Nya kamu dikembalikan.”
Sedangkan dalam Surah Ali Imran ayat 181 yang artinya :
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang – orang yang mengatakan : sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi – nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka) : Rasakanlah olehmu azab yang membakar.”
Untuk memahami atau mengetahui mengapa Allah mengatakan : Sesungguhnya Allah mendengar perkataan orang – orang yang mengatakan : sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya adalah harus dimunasabhkan dengan surah Al Baqarah ayat 245. Dalam ayat tersebut Allah mengatakan bahwa : “Siapa saja yang memberi pinjaman kepada Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya .”
Mendengar firman tersebut orang–orang Yahudi mengatakan kepada Rasulullah : “Hai Muhammad, ternyata Tuhan kamu itu miskin sehingga meminta pinjaman kepada hamba-Nya.”
Dengan perkataan yahudi Yahudi itu maka Allah menurunkan Surah Ali Imran ayat 181.
      Dari uraian contoh surah tersebut menunjukkan bahwa dalam memahami ayat 245 surah Al Baqarah dan ayat 181 Surah Ali Imran harus dimunasabahkan antara keduanya. Dan dapat dilihat bahwa keduanya memiliki peristiwa da nisi yang saling terkait. Dengan demikian akan diketahuilah tentang diturunkan Nya ayat dari surah tersebut.[1]
Di sisi lain munasabah ditinjau dari segi sifatnya maka munasabah terbagi menjadi dua :
1.       Dzahirul Iribath  yaitu hubungan yang nyata dan tampak jelas antara satu ayat dengan ayat lain. Karena keterkaitan kalimat yang satu dengan yang lain erat sekali sehingga semua ayat–ayat tersebut tampak memiliki hubungan yang jelas. Apakah berbentuk penekanan atau penolakan. Contohnya hubungan antara ayat 1 dan 2 surah al–Isro :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا


Yang pertama menjelaskan Israk Nabi Muhammad SAW dan yang kedua menjelaskan tentang diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa. Hubungan kedua ayat tersebut ialah bahwa Nabi Musa dan Nabi Muhammad adalah seorang Rasul yang diutus Allah ke muka bumi, tidak ada alasan untuk tidak percaya kepada kerasulan Muhammad saw sebagaimana dikatakan oleh kaum Nasrani.
Contoh lainnya ialah ayat 5 sampai dengan ayat 8 al Fatihah berhubungan dengan surah al-Baqarah 2 : 2 :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Yang artinya : “ Tunjukkan kami jalan yang lurus” (QS. Al fatihah 1 : 5)
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ 
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al Baqarah 2 : 2)
2.       Khofiyyul Irtibath yaitu hubungan yang tersembunyi atau tidak jelas, dikarenakan samarnya hubungan antara bagian ayat yang satu dengan bagian ayat yang lain,sepertinya tidak berhubungan satu sama lain, seolah-olah setiap ayat berdiri sendiri-sendiri, baik karena bertentangan atau karena ayat yang satu diathafkan(dimungkinkan berhubungan dengan yang lain).Contohnya seperti hubungan antara ayat 189 dan ayat 190 surat Al-Baqarah:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji (QS. Al Baqarah 2 : 189)
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS Al Baqarah 2: 190)

Ayat yang pertama menerangkan bulan sabit untuk tanda-tanda waktu dan untuk jadwal haji, sedangkan ayat kedua menerangkan tentang perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam. Sepintas kedua ayat tersebut tidak ada hubungannya.Padahal sebenarnya ada hubungan antara kedua ayat tersebut,hanya hubungannya tidak kentara. Jelasnya demikian,ayat 189 menerangkan tentang waktu haji di mana menurut hukum tidak boleh berperang pada saat itu.
Kemudian ayat 190 menjelaskan bahwa sebenarnya pada waktu haji ummat Islam dilarang berperang,tetapi jika ia diserang terlebih dahulu maka kaum muslimin berhak menyerang mereka meskipun mereka dalam masa haji.[2]
            Diantara hal pokok mengenai munasabah, pertama, bahwa hubungan antarkata atau ayat kadang nyata, karena keduanya saling berkaitan. Ketiadaan salah satunya menghilangkan kesempurnaan. Kedua, antara kata dengan kata atau ayat dengan ayat kadang tidak terlihat adanya hubungan, seakan  akan ayat tersebut bebas dari ayat lain. Ini tampak dalam dua model. Pertama, hubungan itu ditandai dengan huruf athaf (kata penghubung), seperti dalam ayat :
یَعۡلَمُ مَا یَلِجُ فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا یَخۡرُجُ مِنۡہَا وَ مَا یَنۡزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَ مَا یَعۡرُجُ فِیۡہَا ؕ وَ ہُوَ الرَّحِیۡمُ الۡغَفُوۡرُ
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang, Maha Pengampun.
Dalam firman Allah yang lain :
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
Huruf athaf pada ayat pertama (wawu) menunjukkan keserasian yang mencerminkan perbandingan. Sedangkan pada ayat kedua menunjukkan keserasian yang mencerminkan kesatuan. Hubungan yang tidak menggunakan athaf membutuhkan penyokong yang menjadi bukti keterkaitan kalam (ayat-ayat), berupa pertalian secara maknawi. Hal ini ada tiga jenis. Pertama, tanzhir, yakni hubungan yang mencerminkan perbandingan. Misalnya, ayat, Kamaakhrajaka rabbuka min baitika bilhaqq"(QS.8:5), mengiringi ayat sebelumnya, ula'ika humul-mu'minuna hagqan. Lahum darajatun inda rabbihim wa maghfiratun wa rizqun karim"(QS.8:4).
Kedua, mudhaddah, yakni hubungan yang mencerminkan pertentangan. Misalnya, “...Ula'ika `ala hudan mirrabbihim wauld'ikahumulmuflihun."(QS.2:5) dengan ayat berikutnya,"innalladzina kafarusawa'un alaihim a'andzartahum am lam tundzirhum la yu'minun"(QS.2:6).
Ketiga, istithrad, yakni hubungan yang mencerminkan kaitan suatu persoalan dengan persoalan lain.Misalnya dalam ayat,"Ya bani Adama qad anzalna 'alaikum libasan yuwari sau'atikum wa risyan walibasuttakwa dzalika khairun. Dzalika min ayatillahi la'allahum yatadzakkarun. (QS.7:26).
Dr. Hasani dalam tulisan ini telah banyak menguak tentang berbagai bentuk munasabah dalam Al–Qur’an. Dalam karyanya ini, Dr. Hasani menemukan bentuk munasabah yang ditentukan dalam Tafsir Al–Misbah. Dalam tafsir tersebut ditemukan dua macam munasabah, yaitu munasabah ayat dan surah. Dari dua macam munasabah tersebut, terdapat beberapa macam munasabah lagi sehingga jumlahnya mencapai tiga belas.
1.      Munasabah ayat, terdiri atas
1.      Munasabah antarayat dalam satu surah.
2.      Munasabah antara ayat dan penutupnya.
3.      Munasabah antarkalimat dalam ayat.
4.      Munasabah antarkata dalam satu ayat.
5.      Munasabah antara ayat pertama dan ayat terakhir dalam satu surah.
2.      Munasabah surah, terdiri atas
1.      Munasabah antara suatu surah dan surah sebelumnya.
2.      Munasabah antara awal uraian surah dan akhir uraian surah.
3.      Munasabah antara awal surah dan akhir surah sebelumnya.
4.      Munasabah antara tema surah dan nama surah.
5.      Munasabah antara penutup surah dan mukadimah surah berikutnya.
6.      Munasabah antar kisah dalam satu surah
7.      Munasabah antarsurah
8.      Munasabah antara fawatih al–suwar da nisi surah.
Dari penjelasan tersebut dapat saya katakana bahwa apa yang dikemukakan oleh Dr. Hasani setelah melakukan penelitian yang mendalam terhadap beberapa macam munasabah dalam Tafsir Al–Misbah adalah satu upaya yang patut dihargai. Apa yang disarankan dan diusulkan olehnya mudah–mudahan bisa direspons oleh para peneliti berikutnya sehingga menjadi kajian – kajian yang saling mendukung.[3]
Selain itu dapat digolongkan kembali apabila dari segi sifat munasabah atau keadaan persesuaian dan persambungannya, maka munasabah itu ada dua macam yaitu :
1.      Persesuaian yang nyata (zahir al–irtibat) atau persesuaian yang tampak jelas, yaitu yang persambungan atau persesuaian anatara bagian Al–Qur’an yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat, karena kaitan kalimat yang satu tidak bisa menjadi kalimat yang sempurna, jika dipisahkan dengan kalimat yang lain. Hubungan tersebut kadang berupa : penguat (tawkid), penafsir, penyambung (‘atf), penjelas (bayan), pengecualian (istis | na’),  pembatasan (hasr), menengahi (I’tirad), dan mengakhiri (tadhyil).
Contoh korelasi dalam Q.S al – Isra’ : 1-2
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Yang artinya :
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
            Ayat tersebut menerangkan isra’ Nabi Muhammad SAW, selanjutnya ayat 2 surah al – Isra’ tersebut berbunyi:
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا
Artinya:
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.”
Ayat tersebut menjelaskan turunnya kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s. Persesuaian atau korelasi kedua ayat tersebut sangat jelas, yaitu kedua Nabi dan Rasul Allah SWT, (Muhammad SAW dan Musa a.s.) diusutus dalam rangka menyampaikan hidayah Allah kepada manusia.
2.      Persambungan yang tidak jelas (khafiyyu al–Irtibat) atau samarnya persesuaian anatara bagian al–Qur’an dengan yang lain, sehingga tidak tampak adanya pertalian untuk keduanya, bahkan seolah–olah masing–masing ayat atau surah itu berdiri sendiri–sendiri, baik karena ayat yang satu itu diatafkan kepada yang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lain.
Contoh : seperti hubungan anatara ayat 189 Al–Qur’an Surah al–Baqarah dengan ayat 190 Al–Qur’an Surah al–Baqarah. Ayat 189 Al–Qur’an surah al–Baqarah berbunyi :
۞ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Yang artinya :
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
            Ayat tersebut menerangkan bulan sabit atau tanggal masuknya waktu ibadah haji. Sedangkan ayat 190 Al-Qur’an Surah al–Baqarah berbunyi :
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Yang artinya :
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
            Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang–orang yang menyerang umat Islam. Sepintas, antara kedua ayat tersebut seperti tidak ada hubungannya, atau hubungan ayat yang satu dengan yang lainnya samar. Padahal sebenarnya, ada hubungan anatara kedua ayat berikut, yaitu ayat 189 Al-Qur’an Surah al–Baqarah mengenai soal waktu untuk haji, sedangkan ayat 190 menerangkan sesungguhnya waktu ibadah hajiitu umat Islam dilarang melakukan perang, akan tetapi jika umat Islam itu diserang terlebih dahulu, maka serangan–serangan musuh itu harus dibalas, walaupun pada musim haji.[4]



[1] M. Shalahudin Hamid, Study Ulumul Quran, Jakarta, PT INTIMEDIA Ciptanusantara, 2007, hlm 65-70
[2] M. Shalahudin Hamid, Study Ulumul Quran, Jakarta, PT INTIMEDIA CIPTANUSANTARA, 2007, hlm 293 – 294
[3] Hasani Ahmad Said, Diskursus Munasabah Al Quran Dalam Tafsir Al-Misbah, Jakarta, Amzah, 2015, 1, hlm
[4] Abdul Jalal, ‘Ulumul Al Qur’an,.. , hlm 157

BAB III
CARA–CARA MENGETAHUI MUNASABAH
            Untuk mengetahui muhasabah satu ayat dengan ayat lain atau ayat sebelumnya dan sesudahnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut :
1.      Topik inti yang diperbincangkan dalam ayat. Mufassir perlu mengetahui permasalahan utama yang diperbincangkan oleh suatu ayat. Hal ini dapat diketahui melalui istilah-istilah yang digunakan dan alur pembicaraannya. Permasalahan utama itu mungkin terdapat pada ayat yang akan ditafsirkan atau mungkin juga terdapat dalam ayat sebelumnya, di mana ayat yang akan ditafsirkan itu subtopiknya atau penjelasan lebih jauh tentang permasalahan utama.
2.      Topik inti itu biasanya mempunyai sub-subtopik. Jika topik inti telah diketahui maka perlu pula dilihat dan dipahami hal–hal yang dicakupi oleh topik inti tersebut.
3.      Sub–subtopik itu mempunyai unsur–unsur tersendiri pula. Maka masing masing ayat, ada yang berbincang mengenai topik inti, subtopik, dan ada pula yang memperbincangkan unsur–unsur yang ada pada subtopik. Munasabah Al–Qur’an dapat dilihat dari sisi ini.
Sebagai contoh dapat dilihat dalam surah Al–Baqarah (2) ayat 177 sampai 188. Secara zahir, ayat–ayat itu mungkin terlihat tiada berhubungan anatara satu dengan yang lain, ayat 177 memperbincangkan tentang kriteria orang–orang baik (al-birr), yaitu orang–orang yang benar–benar bertakwa. Hai ini ditandai dengan beriman, beribadah, dan menjaga hubungan sosial, seperti menepati janji dan membantu orang–orang yang tidak mampu. Sedangkan ayat 178 dan seterusnya membincangkan tentang hukum qisas, wasiat, puasa, dan larangan mengambil harta orang lain dengan jalan yang batil.
Akan tetapi, jika dikaji secara mendalam, akan terlihat bahwa ayat–ayat itu saling berkait dan berhubungan anatara satu dengan yang lain. Ayat 177 mengandung topik utama perbincangan, yaitu konsep takwa, dan beriman adalah memiliki keyakinan kepada Allah dan rukun iman lainnya yang diaktualisasikan dalam bentuk ibadah ritual dan menjaga hubungan sosial, yang meliputi perhatian kepada mereka yang tidak mampu dan pergaulan baik antar sesama seperti menepati janji dan kesabaran.
Jadi, inilah topik utama perbincangan ayat tersebut. Sedangkan ayat 178 sampai kepada 188 adalah aktualisasi lebih luas dan rincian ketakwaan, keimanan, dan kebaikan itu. Dikemukakan pula bahwa orang yang benar–benar baik, beriman, dan bertakwa itu berusaha menegakkan hukum Allah, yaitu qisas, berwasiat, berpuasa, dan tidak mengambil harta orang lain dengan jalan yang batil.
Maka berpuasa merupakan aktualisasi keimanan dan ketakwaan kepada–Nya. Menegakkan hukum qisas, selain dari realisasi kepercayaan yang penuh kepada Allah, juga perwujudan dari perhatian terhadap manusia dan kemanusiaan. Demikian pula wasiat dan larangan mengambil harta orang lain yang digambarkan dalam ayat–ayat berikutnya.[1]



[1] Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, Jakarta, Amzah, 2014, 2, hlm 104 - 105

KESIMPULAN
            Dapat disimpulkan bahwasanya munasabah dapat diartikan menurut bahasa berarti persesuaian atau hubungan atau relevansi, yaitu hubungan atau persesuaian ayat atau surat satu dengan ayat atau surat sebelumnya atau sesudahnya. Adapun menurut istilah yaitu ilmu untuk mengetahui alasan–alasan penertiban dari bagian–bagian Al–Qur’an yang mulia. Ilmu ini menjelaskan tentang segi–segi hubungan antara beberapa ayat atau beberapa surah Al–Qur’an. Pengertian ini tidak hanya memiliki makna persesuaian dalam arti sejajar dan paralel saja, melainkan yang kontraksipun juga termasuk muhasabah.
            Macam persesuaian ditinjau dari segi sifat muhasabah atau keadaan persesuaian dan persambungannya, maka muhasabah itu ada dua macam :
1.      Persesuaian yang nyata (zahir al–irtibat) atau persesuaian yang tampak jelas.
2.      Persesuaian yang tidak jelas (khafiyyu al–Irtibat).

Macam persesuaian ditinjau dari segi materinya dalam al–Qur’an sekurang kurangnya terdapat tujuh macam muhasabah yaitu :
1.      Muhasabah antara surat dengan surat sebelumnya.
2.      Munasabah antara awal uraian surah dan akhir uraian surah.
3.      Munasabah antara awal surah dan akhir surah sebelumnya.
4.      Munasabah antara tema surah dan nama surah.
5.      Munasabah antara penutup surah dan mukadimah surah berikutnya.
6.      Munasabah antar kisah dalam satu surah
7.      Munasabah antarsurah
8.      Munasabah antara fawatih al–suwar dan isi surah.
Untuk mengetahui munasabah satu ayat dengan ayat lain atau ayat sebelumnya dan sesudahnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut.
1.      topik inti yang diperbincangkan dalam ayat. Mufassir perlu mengetahui permasalahan utama yang diperbincangkan oleh suatu ayat.
2.      Topik inti itu biasanya mempunyai sub-subtopik. Jika topik inti telah diketahui maka perlu pula dilihat dan dipahami hal–hal yang dicakupi oleh topik inti tersebut.
3.      Sub–subtopik itu mempunyai unsur–unsur tersendiri pula. Maka masing masing ayat, ada yang berbincang mengenai topik inti, subtopik, dan ada pula yang memperbincangkan unsur–unsur yang ada pada subtopik.


DAFTAR PUSTAKA
Abu Zaid, Nasr Hamid. 2016.Tekstualitas Al – Qur’an. Yogyakarta : IRCiSoD
Ahmad Said, Hasani. 2015.Diskursus Munasabah AlQur’an Dalam Tafsir Al Misbah. Jakarta : AMZAH
Anwar, Abu. 2002.Ulumul Qur’an. Surabaya : AMZAH
Aziz, Moh Ali. 2012. Mengenal Tuntas Al-Quran. Surabaya : IMTIAZ
Chirzin, Muhammad. 2003.Permata Al – Qur’an. Yogyakarta : QIRTAS
Hamid, Shalahuddin. 2007.Study Ulumul Qur’an. Jakarta : INTIMEDIA CIPTANUSANTARA
M. Yusuf, Kadar. 2014.Studi AlQur’an. Jakarta : AMZAH
UIN Sunan Ampel, MKD. 2013. Studi Al – Qur’an. Surabaya : UINSA SA Press
UIN Sunan Ampel, MKD. 2014. Bahan Ajar Studi Al – Qur’an. Surabaya : UINSA SA Press

Komentar

  1. MasyaAllah, semoga menjadi ladang pahala bagi penulis karena telah membagi ilmunya melalui artikel ini. Aamiin

    BalasHapus
  2. MasyaAllah sangat bermanfaat sekali, terima kasih

    BalasHapus
  3. Masyallah terimakasih sudah berbagi ilmu melalui blog ini,hasilnya memuaskan dan tentunya bermanfaat bagi pembaca:)

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah masih ada manusia yang masih ingat agama
    Alhamdulillah
    Saya bersyukur teman saya seperti ini

    BalasHapus
  5. masyaAllah kakak terima kasih sudah membagikan ilmunya, semoga bermanfaat bagi kita semua ya kak

    BalasHapus
  6. برق فيه،،ما أجمل هذا المقالة،،جزاكاللّه خير...وينفع علينا آمين

    BalasHapus
  7. Sebelumnya terimakasih, semoga ilmu ini bisa bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

    BalasHapus
  8. Masyaallah, terima kasih atas penyaluran ilmunya. sangat bermanfaat untuk kita para pembaca

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah Masi ada jiwa muda yang peduli dan mengingatkan sesama muslim , semoga ilmu nya bermanfaat bagi semua umat khususnya agama Islam

    BalasHapus
  10. MasyaAllah, terima kasih ilmunya, semoga bisa bermanfaat untuk semua. Dan bisa lebih baik lagi kedepannya

    BalasHapus
  11. Aah blognya bagus banget kak, aku jadi terharu deh kakak

    BalasHapus
  12. Masyaallah akhi blognya bagus sekali dan isi artikelnya menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  13. Terimakasih sudah berbagi ilmu dan informasi nya semoga bisa bermanfaat untuk dunia dan akhirat

    BalasHapus
  14. waw, bermanfaat sekali kakak artikelnya. Jadi kepengen masuk surga masyaAllah

    BalasHapus
  15. Semoga Ilmunya bermanfaat bagi pembaca dan mengalirkan pahala bagi penulis :)

    BalasHapus
  16. جيد جدا ... نأمل أن تنتج أعمالا كتابية جيدة وصحيحة. انتظار الورقة التالية ...

    BalasHapus
  17. Alhamdulillah saya mendapatkan ilmu baru, semoga ilmu ini dapat bermanfaat untuk semuanya Aamin

    BalasHapus
  18. Alhamdulillah ilmunya semoga bermanfaat bagi yang lainnya untuk pembelajaran kita

    BalasHapus
  19. Makalahnya sangat, bermanfaat bagi pengetahuan umum, agama, dan menambah wawasan.

    BalasHapus
  20. Masyaallah, subhanallah, Alhamdulillah, luar biasa, semoga para pembaca bisa lebih luas wawasannya setelah membaca makalah ini.

    BalasHapus
  21. Subhanallah, sangat bermanfaat sekali materi nya, semoga bisa menginspirasi oeang sekitar ya..

    BalasHapus
  22. Alhamdulillah terima kasih atas ilmu yang kakak berikan, wawasan saya jadi lebih luas lagi. Semoga makalah ini juga bisa menambah wawasan para pembaca

    BalasHapus
  23. masyaAllah, blognya sgt memberika informasi yg sgt menarik dan bermanfaat juga menambah wawasan saya. Terimakasih :))

    BalasHapus
  24. Senoga bermanfaat untuk semua pembaca. Semangatt**

    BalasHapus
  25. Sangat bermanfaat . Terimaksih kak

    BalasHapus
  26. Sangat bermanfaat kak,semoga berkah ilmunya kak semangat trus

    BalasHapus
  27. alhamdulillah sangat bermanfaat kak bagi saya, penulis ini sangat berpotensi untuk masa yang akan datang.

    BalasHapus
  28. آمل أن يكون المقال مفيدًا ، وآمل أن يكون أولئك الذين يقرأون قد حصلوا على المعرفة ، قد وصلوا إلى المقالة المثالية

    BalasHapus
  29. Alhamdulillah, makasih ka ilmunya, sangat berguna

    BalasHapus
  30. Sangat bermanfaat bagi pembaca, ditunggu karya selanjutnya, sukses selalu kak

    BalasHapus
  31. Alhamdulillah dapat ilmu baru, blognya sangat bermanfaat. Semoga kedepannya penulis lebih kreatif lagi:)

    BalasHapus
  32. Alhamdulillah, makalah ini bermanfaat , semakin menambah pengetahuan kita, terimakasih kak

    BalasHapus
  33. Alhamdulillah dapet ilmu baru. Makasihh kak:))

    BalasHapus
  34. Alhamdullilah sangat bermanfaat sekali ilmunya semoga jadi berkah buat semua

    BalasHapus
  35. Betul-betul bermanfaat menambah wawasan bagi kita

    BalasHapus
  36. alhamdulillah ilmunya semoga bermanfaat

    BalasHapus
  37. Masyaallah, tulisan yang sangat bermanfaat. terimakasih sudah berbagi ilmunya, semoga terus membuat hal-hal yang bermanfaat bagi banyak orang

    BalasHapus
  38. alhamdulillah makalah ini sangat bermanfaat bagi para pembaca, ditunggu karya selanjutnya ya kak

    BalasHapus
  39. Sebelumnya terimakasih atas ilmunya, seboga bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

    BalasHapus
  40. Terima kasih gan, infonya sangat membantu buat saya

    BalasHapus
  41. masyaallah mas arya sungguh menginspirasi kalo saya boleh request topik bisakah mas bahas tentang perzinahan? terima kasih sebelumnya semoga sukses mas

    BalasHapus
  42. subhanaallah masyaallah makalahnyaa sangat membantuu materinya juugaa mudah diapahami semoga kedepannya makin baik lagi aamiin aamiin

    BalasHapus
  43. Berkat tulisan ini saya tahu bahwa tiap ayat-ayat di dalam Al-Qur'an itu saling berkaitan. Teruskan menulis!

    BalasHapus
  44. Makalahnya bagus sekali kak,semoga bermanfaat bagi para pembaca dan menginspirasi para pembaca aminnnn

    BalasHapus
  45. Alhamdulillah dengan ini dapat menambah wawasan dan memperdalam ilmu terimakasih

    BalasHapus
  46. terimakasih, isinya sangat membantu dan menambah wawasan. sukses slalu dalam membagikan ilmu yang bermanfaat seperti ini.

    BalasHapus
  47. Terima kasih,karna makalah ini saya bisa mengerjakan tugas saya.sukses selalu ya buat penulisnya

    BalasHapus
  48. MasaAllah setelah baca blog ini saya bisa merasakan keberkahan ilmu yg dibagikan,thx ya

    BalasHapus
  49. Alhamdulillah saya terinspirasi dari blog ini saya bisa menambah ilmu dan ketaqwaan saya :(

    BalasHapus
  50. Terimakasih kak blognya sangat bermanfaat untuk mengerjakan tugas

    BalasHapus
  51. makasih kak blognya sgt bermanfaat, semoga bisa lebih baik lagi kak👏

    BalasHapus
  52. Sangat bermanfaat bagi seluruh uinsa khususnya kemajuan bangsa kita indonesia

    BalasHapus
  53. Terimakasih author atas sharing ilmunya, saya jadi terbantu dalam memahami materi ini. Semoga ilmunya bisa menjadi berkah kepada kita semua

    BalasHapus
  54. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  55. jazakumullah khairan, salut banget atas blog yg telah anda bagikan, sangat membantu dan bermanfaat bagi si pembaca. Semangat terus untuk si penulis,jangan lupa bahagia kakak 💪🏼

    BalasHapus
  56. Alhamdulillah sangat bermanfaat👍

    BalasHapus
  57. Terima kasih sesudah saya membaca ini jadi terinspirasi mengerjakan matematika

    BalasHapus
  58. MasyaAllah sangat bermanfaat sekali materinya, terima kasih banyak

    BalasHapus
  59. Mon maap, komennya aga beda sama yg lain, ada sedikit koreksi, sebuah blog lebih apik tidak menyertakan daftar isi dng halamannya, jika memang ingin menyertakan daftar isi, beri fitur hyperlink sehingga pembaca tidak kebingungan sampai bagian mana mereka membacanya

    Sekian dan terima kasih

    BalasHapus
  60. Semoga ilmunya manfaat, dan membawa berkah bagi pembaca maupun penulis

    BalasHapus
  61. terima kasih, semoga ilmunya dapat bermanfaat bagi kita semua

    BalasHapus

Posting Komentar