MUNASABAH AL
QUR’AN
MAKALAH
Dosen :
Prof.Dr. Moh Ali
Aziz, M.Ag
Ati’ Nursyafa’ah
M.Kom.I
Disusun oleh :
Arya Hafizh
Mahardhika
(B95219090)
JURUSAN ILMU
KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Pertama,
marilah kita panjatkan segala puji syukur kepada Allah SWT yang telah
memberikan kemudahan dan kelancaran dalam membuat makalah ini sehingga dapat
terselesaikan dengan baik sesuai waktu yang ditentukan. Sholawat dan salam
semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Tujuan
pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas
mata kuliah Studi al-Qur’an. Seperti yang diketahui bahwa Al-Qur’an memiliki
makna dan arti yang sangat dalam. Karena itu, dalam makalah ini membahas
tentang Ayat-ayat al-Quran, khususnya Munasabah
al-Qur’an (keterkaitan antar ayat dan surat).
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada bapak Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku
dosen mata kuliah Studi al-Qur’an, dan asisten dosen ibu Ati’ Nursyafa’ah
M.Kom.I yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Terima
kasih juga kepada semua pihak yang telah membantu selama proses pembuatan
makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Karena itu, saran
dan kritik yang membangun senantiasa penulis harapkan demi perbaikan makalah
ini di kemudian hari. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar................................................................................................................... 1
Daftar
Isi............................................................................................................................ 2
BAB
I Pengertian Munasabah........................................................................................... 3
BAB
II Macam - macam Munasabah................................................................................ 9
BAB
III Cara – cara Mengetahui Munasabah.................................................................. 20
Kesimpulan....................................................................................................................... 22
Daftar
Pustaka................................................................................................................... 24
BAB
I
PENGERTIAN
MUNASABAH
Menurut
bahasa, Al–Munasabah berarti keserasian dan kedekatan [1].
Selanjutnya Quraish Shihab menyatakan (menggaris bawahi As-Suyuthi) bahwa
munasabah adalah adanya keserupaan dan kedekatan di antara berbagai ayat,
surah, dan kalimat yang mengakibatkan adanya hubungan.[2]
Hubungan tersebut dapat berbentuk keterkaitan makna antar ayat dan macam-macam
hubungan, atau kemestian dalam pemikiran (nalar).
Selain itu adapula pengertian
munasabah secara linguistik artinya ialah : pendekatan, dikatakan si Fulan
mirip si Fulan., maksudnya ia menyerupainya baik dalam sebab maupun qiyasnya,
maka ia disebut sebagai penyifatan terhadap hal yang serupa. Atau sifat yang
mendekti secara hukum, maka dikatakan munasabat ialah perkara yang masuk akal.
Menurut terminologinya yang dimaksud
dengan Munasabah ialah : adanya hubungan anatara satu susunan kata dengan
susunan kata lain dalam al-Qur’an, atau melalui makna yang berhubungan
dengannya seperti aam dan khas, reasonable, atau karena hukum kausalitas
dan sebagainya.[3]
Munasabah dalam pengertian bahasa
adalah cocok, patut atau sesuai, mendekati. Jika dikatakan A munasabah dengan
B, berarti A mendekati atau menyerupai B.
[1] M. Quraish Shihab. Wawasan Alquran, (Bandung.
Mizan, cet IV, 1996), hlm 319.
[2] Ibid hlm 319
[3] M. Shalahudin Hamid, Study
Ulumul Quran, Jakarta, PT Intimedia Cipta Nusantara, 2007, hlm 291
Dalam
pengertian istilah ada beberapa pendapat. Menurut Manna’ Al Qathan, munasabah
adalah segi-segi hubungan antara satu ayat, antara satu ayat dengan ayat
lainnya, atau antara satu surat dengan surat yang lain.
M.
Hasbi Ash Shiddieqy membatasi pengertian munasabah dengan ta’wil.7
Az Zarkasyi dan As Sayuthi merumuskan bahwa yang dimaksud dengan munasabah
ialah hubungan yang mencakup antarayat ataupun surat.
Dalam
pengertian istilah, munasabah diartikan sebagai ilmu yang membahas hikmah
korelasi urutan ayat al–Qur’an. Munasabah adalah usaha pemikiran manusia dalam
menggali rahasia hubungan antarayat atau surat yang dapat diterima oleh akal.
Dengan demikian diharapkan ilmu ini dapat menyingkap rahasia Ilahi, sekaligus
sanggahan–Nya, bagi mereka yang meragukan keberadaan Al–Qur’an sebagai wahyu.[1]
Atau
adapula pengertian lain, secara etimologi, munasabah semakna dengan musyakalah
dan muqarabah, yang berarti serupa dan berdekatan. Secara istilah, munasabah
berarti hubungan atau keterkaitan dan keserasian antara ayat–ayat Al–Qur’an.
Ibnu
Arabi, sebagaimana dikutip oleh Imam As–Sayuti, mendefinisikan munasabah itu
kepada “Keterkaitan ayat–ayat al–Qur’an antara sebagian yang lain, sehingga ia
terlihat sebagai suatu ungkapan yang rapid an sistematis.”11 Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa munasabah adalah suatu ilmu yang membahas
tentang keterkaitan atau keserasian ayat–ayat al–Qur’an antara satu dengan yang
lain.12 Berdasarkan kajian
munasabah, ayat–ayat al–Qur’an dianggap tidak terasing antara satu dari yang
lain. Ia mempunyai keterkaitan, hubungan, dan keserasian. Hubungan itu terletak
terletak antara ayat dengan ayat, antara nama surah dengan isi surah, awal
surah dengan akhir surah, antara kalimat – kalimat yang terdapat dalam setiap
ayat, dan lain sebagainya.[2]
Adapun
dalam penjelasan mengenai munasabah yang lain, M. Quraish Shibab mengatakan, “
Saya tertarik dengan tokoh ini karena ia hampir terbunuh gara-gara kitab
tafsirnya.” Al-Baiqa’I juga dinilai oleh banyak pakar sebagai ahli tafsir yang
berhasil menyusun suatu karya yang sempurna dalam masalah korelasi antara
ayat-ayat dan surah al-Qur’an. Ada juga yang menilai bahwa kitab tafsirnya merupakan
ensiklopedia mengenai munasabah al-Qur’an. Quraish Shihab menambah satu
keterangan lagi, yaitu hubungan kandungan surah dengan surah berikutnya.
Keserasian yang dimaksud adalah hubungan kata demi kata dalam satu ayat, hungan
antara kandungan ayat dan fashilah (penutup ayat), hubungan ayat dengan
ayat berikutnya, hubungan mukadimah satu surah dengan penutupnya, hubungan
penutup satu surah dengan mukadimah surah berikutnya, serta hubungan kandungan
surah dengan surah sesudahnya.[3]
Selain
itu pengertian munasabah berarti persesuaian atau hubungan atau relevansi,
yaitu hubungan atau persesuaian antara ayat atau surat satu dengan ayat atau
surat yang sebelumnya atau sesudahnya. As – Suyuti berpendapat; al-munasabah
berarti al-munashakalah (keserupaan) dan al-muqarabah (kedekatan).15
Misalnya Fulan “yunasib” Fulan, berarti si A mempunyai hubungan dekat dengan si
B dan menyerupainya. Dari kata ‘yunasib’ ini lahir pula kata “an-Nasib” berarti
kerabat yang mempunyai hubungan seperti dua orang bersaudara. Karena itu
sebagian pengarang menanamkan ilmu ini dengan: “ilmu tanasub al-ayat wa
as-suwar” yang artinya ilmu yang menjelaskan persesuaian antara ayat atau surat
yang satu dengan ayat atau surat yang lainnya.
Menurut
istilah munasabah atau ‘ilmu tanasub al-ayat wa as-suwar ialah ilmu untuk
mengetahui alasan – alasan penertiban dari bagian–bagian Al-Qur’an yang mulia.
Ilmu ini menjelaskan tentang segi–segi hubungan antara beberapa ayat atau
beberapa surat al-Qur’an. Perngertian munasabah ini tidak hanya sesuai dalam
arti sejajar dan paralel saja, melainkan yang kontradiksipun termasuk
munasabah. Sebab ayat-ayat al-Qur’an itu kadang–kadang merupakan “takhis”
(pengkhususan) dari ayat yang umum, kadang–kadang sebagai penjelas hal hal yang
kongkrit terhadap hal - hal yang abstrak.[4]
Masing–masing
ayat al–Qur’an memiliki keterkaitan satu sama lain (munasabah). Demikian
juga keterkaitan antar surat. Keterkaitan (munasabah) ini bukan berasal
dari petunjuk Nabi SAW, melainkan dari hasil pemikiran para ulama secara
mendalam. Keterkaitan antar ayat dan surat dalam al–Qur’an didasarkan pada
pemahaman bahwa teks merupakan kesatuan bentuk yang bagian–bagiannya saling
terkait (Nasr Hamid Abu Zaid, 2001:215). Sebagai contoh, sebuah buku akan sulit
dipahami bila ada satu atau beberapa bab yang hilang. Setiap penulis buku
mengusahakan agar terjadi keterkaitan antara kalimat, antar alinea, antar
sub-bab, dan antar bab. Keterkaitan ini dimaksudkan untuk “menjadi bagian–bagian
dari sebuah pernyataan saling berkait, sehingga penyusunannya menjadi seperti
bangunan yang kokoh yang bagian – bagiannya tersusun harmonis” (Badr al–Din
al–Zarkasyi, 1972: 35 – 36).[5]
Selain
itu adapula munasabah menurut bahasa berarti persesuaian atau hubungan atau
relevansi yaitu hubungan atau persesuaian antara ayat atau surat satu dengan
ayat atau surat yang sebelumnya atau sesudahnya. As–Sayuti berpendapat;
munasabah berarti al–musyakalah (kesurupaan) dan al-muqarabah (kedekatan).18
Misalnya si Fitri “yunasib” Fitri, berarti si A mempunyai hubungan dekat
dengan si B dan menyerupainya. berasal dari kata "an–nasib” berarti
kerabat yang mempunyai hubungan seperti dua orang bersaudara. Karena itu
sebagian pengarang menamakan ilmu ini dengan : “ Ilmu Tanasub al–Ayat Wa
as-Suwar” yang artinya yaitu ilmu yang menjelaskan persesuaian antara ayat atau
surat yang satu dengan ayat atau surat yang lainnya.[6]
Dalam kutipan lain
juga menyebutkan bahwa munasabah Al-Qur’an yakni keserupaan atau kedekatan di
antara berbagai ayat, surat, dan kalimat yang mengakibatkan adanya hubungan.[7]
[1] Muhammad Chirzin, Permata Qur’an, Yogyakarta,
CV. Qalam, 2003, 1, hlm 49.
[2] Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, Jakarta,
Amzah, 2014, 2, hlm 96
[3] Hasani Ahmad Said, Diskursus Munasabah Al Quran
Dalam Tafsir Al-Misbah, Jakarta, Amzah, 2015, 1, hlm 156-157
[5] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an,
Surabaya, IMTIYAZ, 2018, 3, hlm104
[6] Sauqiyah Musyafa’ah, Studi Al-Qur’an, Surabaya,
USAP, 2013, 3, hlm 217-218
[7] Nasr Hamid Abu Zayd, Tekstualitas Al-Qur’an,
Yogyakarta, LKiS Yogyakarta, 2016, 1, hlm 199
BAB
II
MACAM-MACAM
MUNASABAH
Berdasarkan
pengertian di atas, munasabah atau keterkaitan ini dapat dibedakan menjadi
beberapa macam. Menurut sumber buku ulumul quran yang ditulis oleh Drs. Abu
Anwar, M.Ag menyatakan bahwa macam macam munasabah terdiri atas 4 bagian yakni:
1.
Munasabah antara
kandungan suatu ayat dalam suatu surah dengan suatu ayat pada surah sesudahnya.
Surah–surah
yang ada dalam Al–Qur’an mempunyai munasabah, sebab surah yang dating kemudian
menjelaskan beberapa hal yang disebutkan secara global pada surah sebelumnya (As
Suyuthi). Misalnya Surah Al Baqarah memberikan perincian serta penjelasan
terhadap surah Al Fatihah. Sedangkan surah Ali Imran yang merupakan urutan
surah berikutnya memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap kandungan Surah Al
Baqarah, yaitu ancaman Allah terhadap orang orang kafir karena pengaruh harta
dunia. Ayat dari surah–surah tersebut berbunyi :
ا لحمد لله ر ب العا لمين
فا ذ كفر و أ ذ كر كم
إن الذ ين كفر و الن تغني عنهم أموالهم ولا أولادهم من الله شيعا
وأولئك هم وقودالنا ر
Artinya :
1. “Segala puji untuk Allah Tuhan semesta
alam” (QS. Al - Fatihah: 2)
2. “Ingat kepada–Ku, niscaya Aku ingat pula
kepadamu”, (QS. Al Baqarah: 152)
3. “Sesungguhnya orang orang kafir, harta,
benda dan anak anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak siksaan neraka yang
disediakan Allah. Dan mereka adalah bahan bakar api neraka” (QS. Ali Imran: 10)
2. Munasabah antara surah dalam bentuk tema
sentral
Selain dari itu, munasabah dapat membentuk
tema sentral yang ada dalam berbagai surah. Misalnya surah Al Fatihah tema
sentralnya adalat ikrar ketuhanan. Dan dalam surah Al Baqarah tema sentralnya
adalah kaidah–kaidah agama. Sedangkan surah Ali Imran tema sentralnya adalah
dasar–dasar agama. Kesemuanya itu merupakan pondasi bagi umat Islam dalam
beramal, baik amal dalam makna sempit maupun amal dalam makna luas.
3. Munasabah antara ayat terakhir dalam surah
dengan ayat pertama dalam surah berikutnya
Contoh dari munasabah model ini antara lain
ayat terakhir dari Surah Al Ahqaf dengan ayat pertama dari surah Muhammad.
Dalam ayat terakhir (35) Surah Al Ahqaf disebutkan :
كأ نهم يوم يرون ما يو عد ون لم يلبثوا إلا
سا عة من نها ر يلا غ فهل يهلك إلا قوم الفا سقو ن
…..
Pada hari mereka melihat azabyang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah olah
tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu
pelajaran yang cukup, maka tidak binasakan kecuali kaum yang fasiq.
Dan dalam ayat pertama Surah Muhammad
difirmankan:
الذ ين كفر وا وصدّ واعن سبيل الله أضلّ أعما
لهم
(Yaitu)
orang–orang yang kafir dan menghalang-halangi dari jalan Allah, Allah menghapus
segala amal–amal mereka.
Dalam ayat terakhir surah Al–Ahqaf tersebut
dijelaskan tentang ancaman siksa bagi orang–orang fasiq itu, ada pada ayat
pertama Surah Muhammad, yaitu orang orang kafir dan orang orang yang
menghalang–halangi manusia dari berbuat kebaikan. Contoh tersebut menunjukkan
bahwa untuk memahami secara jelas makna yang ada pada ayat terakhir surah Al
Ahqaf harus dimunasabahkan dengan ayat pertama Surah Muhammad. Dengan kata lain
apabila suatu ayat belum jelas maknanya,maka pasti ada penjelasan itu pada
surah lain.
4. Munasabah karena adanya keterkaitan atau adanya suatu peristiwa.
Contoh munasabah dalam bentuk ini adalah
seperti terdapat pada Surah Al Baqarah ayat 245 dengan Surah Ali Imran ayat
181. Pada surah Al Baqarah ayat 245 yang artinya : “ Siapakah yang mau
memberikan pinjaman kepada Allah, dengan pinjaman yang baik (menafkahkan harta
di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan
berlipat ganda. Allah menyempitkan dan melapangkan rezeki dan kepada-Nya kamu
dikembalikan.”
Sedangkan dalam Surah Ali Imran ayat 181
yang artinya :
“Sesungguhnya Allah telah mendengar
perkataan orang – orang yang mengatakan : sesungguhnya Allah miskin dan kami
kaya. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh
nabi – nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka) :
Rasakanlah olehmu azab yang membakar.”
Untuk memahami atau mengetahui mengapa
Allah mengatakan : Sesungguhnya Allah mendengar perkataan orang – orang yang
mengatakan : sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya adalah harus dimunasabhkan
dengan surah Al Baqarah ayat 245. Dalam ayat tersebut Allah mengatakan bahwa :
“Siapa saja yang memberi pinjaman kepada Allah akan melipatgandakan pembayaran
kepadanya .”
Mendengar firman tersebut orang–orang
Yahudi mengatakan kepada Rasulullah : “Hai Muhammad, ternyata Tuhan kamu itu
miskin sehingga meminta pinjaman kepada hamba-Nya.”
Dengan perkataan yahudi Yahudi itu maka
Allah menurunkan Surah Ali Imran ayat 181.
Dari
uraian contoh surah tersebut menunjukkan bahwa dalam memahami ayat 245 surah Al
Baqarah dan ayat 181 Surah Ali Imran harus dimunasabahkan antara keduanya. Dan
dapat dilihat bahwa keduanya memiliki peristiwa da nisi yang saling terkait.
Dengan demikian akan diketahuilah tentang diturunkan Nya ayat dari surah
tersebut.[1]
Di sisi lain munasabah ditinjau dari segi sifatnya maka munasabah
terbagi menjadi dua :
1.
Dzahirul
Iribath yaitu hubungan yang nyata
dan tampak jelas antara satu ayat dengan ayat lain. Karena keterkaitan kalimat
yang satu dengan yang lain erat sekali sehingga semua ayat–ayat tersebut tampak
memiliki hubungan yang jelas. Apakah berbentuk penekanan atau penolakan.
Contohnya hubungan antara ayat 1 dan 2 surah al–Isro :
سُبْحَانَ
الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا
Yang
pertama menjelaskan Israk Nabi Muhammad SAW dan yang kedua menjelaskan tentang
diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa. Hubungan kedua ayat tersebut ialah
bahwa Nabi Musa dan Nabi Muhammad adalah seorang Rasul yang diutus Allah ke
muka bumi, tidak ada alasan untuk tidak percaya kepada kerasulan Muhammad saw
sebagaimana dikatakan oleh kaum Nasrani.
Contoh
lainnya ialah ayat 5 sampai dengan ayat 8 al Fatihah berhubungan dengan surah
al-Baqarah 2 : 2 :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ
Yang artinya : “ Tunjukkan kami jalan yang
lurus” (QS. Al fatihah 1 : 5)
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ
فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan
padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al Baqarah 2 : 2)
2.
Khofiyyul
Irtibath yaitu hubungan yang tersembunyi atau tidak jelas, dikarenakan samarnya
hubungan antara bagian ayat yang satu dengan bagian ayat yang lain,sepertinya
tidak berhubungan satu sama lain, seolah-olah setiap ayat berdiri sendiri-sendiri,
baik karena bertentangan atau karena ayat yang satu diathafkan(dimungkinkan
berhubungan dengan yang lain).Contohnya seperti hubungan antara ayat 189 dan
ayat 190 surat Al-Baqarah:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ
قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah:
"Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat)
haji (QS. Al Baqarah 2 : 189)
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ
الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang
memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS Al Baqarah 2: 190)
Ayat
yang pertama menerangkan bulan sabit untuk tanda-tanda waktu dan untuk jadwal
haji, sedangkan ayat kedua menerangkan tentang perintah menyerang kepada
orang-orang yang menyerang umat Islam. Sepintas kedua ayat tersebut tidak ada
hubungannya.Padahal sebenarnya ada hubungan antara kedua ayat tersebut,hanya
hubungannya tidak kentara. Jelasnya demikian,ayat 189 menerangkan tentang waktu
haji di mana menurut hukum tidak boleh berperang pada saat itu.
Kemudian
ayat 190 menjelaskan bahwa sebenarnya pada waktu haji ummat Islam dilarang
berperang,tetapi jika ia diserang terlebih dahulu maka kaum muslimin berhak
menyerang mereka meskipun mereka dalam masa haji.[2]
Diantara hal pokok mengenai
munasabah, pertama, bahwa hubungan antarkata atau ayat kadang nyata, karena
keduanya saling berkaitan. Ketiadaan salah satunya menghilangkan kesempurnaan.
Kedua, antara kata dengan kata atau ayat dengan ayat kadang tidak terlihat
adanya hubungan, seakan akan ayat
tersebut bebas dari ayat lain. Ini tampak dalam dua model. Pertama, hubungan
itu ditandai dengan huruf athaf (kata penghubung), seperti dalam ayat :
یَعۡلَمُ مَا
یَلِجُ فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا یَخۡرُجُ مِنۡہَا وَ مَا یَنۡزِلُ مِنَ السَّمَآءِ
وَ مَا یَعۡرُجُ فِیۡہَا ؕ وَ ہُوَ الرَّحِیۡمُ الۡغَفُوۡرُ
Dia mengetahui
apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari
langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang, Maha
Pengampun.
Dalam firman
Allah yang lain :
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا
فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ
وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Siapakah
yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya
di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya
dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki)
dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
Huruf
athaf pada ayat pertama (wawu) menunjukkan keserasian yang mencerminkan
perbandingan. Sedangkan pada ayat kedua menunjukkan keserasian yang
mencerminkan kesatuan. Hubungan yang tidak menggunakan athaf membutuhkan
penyokong yang menjadi bukti keterkaitan kalam (ayat-ayat), berupa pertalian
secara maknawi. Hal ini ada tiga jenis. Pertama, tanzhir, yakni hubungan yang
mencerminkan perbandingan. Misalnya, ayat, Kamaakhrajaka rabbuka min baitika
bilhaqq"(QS.8:5), mengiringi ayat sebelumnya, ula'ika humul-mu'minuna
hagqan. Lahum darajatun inda rabbihim wa maghfiratun wa rizqun
karim"(QS.8:4).
Kedua,
mudhaddah, yakni hubungan yang mencerminkan pertentangan. Misalnya, “...Ula'ika
`ala hudan mirrabbihim wauld'ikahumulmuflihun."(QS.2:5) dengan ayat
berikutnya,"innalladzina kafarusawa'un alaihim a'andzartahum am lam
tundzirhum la yu'minun"(QS.2:6).
Ketiga,
istithrad, yakni hubungan yang mencerminkan kaitan suatu persoalan dengan
persoalan lain.Misalnya dalam ayat,"Ya bani Adama qad anzalna 'alaikum
libasan yuwari sau'atikum wa risyan walibasuttakwa dzalika khairun. Dzalika min
ayatillahi la'allahum yatadzakkarun. (QS.7:26).
Dr.
Hasani dalam tulisan ini telah banyak menguak tentang berbagai bentuk munasabah
dalam Al–Qur’an. Dalam karyanya ini, Dr. Hasani menemukan bentuk munasabah yang
ditentukan dalam Tafsir Al–Misbah. Dalam tafsir tersebut ditemukan dua macam munasabah, yaitu
munasabah ayat dan surah. Dari dua macam munasabah tersebut, terdapat beberapa
macam munasabah lagi sehingga jumlahnya mencapai tiga belas.
1. Munasabah ayat, terdiri atas
1. Munasabah antarayat dalam satu surah.
2. Munasabah antara ayat dan penutupnya.
3. Munasabah antarkalimat dalam ayat.
4. Munasabah antarkata dalam satu ayat.
5. Munasabah antara ayat pertama dan ayat
terakhir dalam satu surah.
2. Munasabah surah, terdiri atas
1. Munasabah antara suatu surah dan surah
sebelumnya.
2. Munasabah antara awal uraian surah dan
akhir uraian surah.
3. Munasabah antara awal surah dan akhir surah
sebelumnya.
4. Munasabah antara tema surah dan nama surah.
5. Munasabah antara penutup surah dan
mukadimah surah berikutnya.
6. Munasabah antar kisah dalam satu surah
7. Munasabah antarsurah
8. Munasabah antara fawatih al–suwar da
nisi surah.
Dari penjelasan tersebut dapat saya
katakana bahwa apa yang dikemukakan oleh Dr. Hasani setelah melakukan
penelitian yang mendalam terhadap beberapa macam munasabah dalam Tafsir Al–Misbah
adalah satu upaya yang patut dihargai. Apa yang disarankan dan diusulkan
olehnya mudah–mudahan bisa direspons oleh para peneliti berikutnya sehingga
menjadi kajian – kajian yang saling mendukung.[3]
Selain itu dapat digolongkan kembali
apabila dari segi sifat munasabah atau keadaan persesuaian dan persambungannya,
maka munasabah itu ada dua macam yaitu :
1. Persesuaian yang nyata (zahir al–irtibat)
atau persesuaian yang tampak jelas, yaitu yang persambungan atau
persesuaian anatara bagian Al–Qur’an yang satu dengan yang lain tampak jelas
dan kuat, karena kaitan kalimat yang satu tidak bisa menjadi kalimat yang
sempurna, jika dipisahkan dengan kalimat yang lain. Hubungan tersebut kadang
berupa : penguat (tawkid), penafsir, penyambung (‘atf), penjelas (bayan),
pengecualian (istis | na’), pembatasan (hasr), menengahi (I’tirad),
dan mengakhiri (tadhyil).
Contoh korelasi dalam Q.S al – Isra’ : 1-2
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ
مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Yang artinya :
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ayat
tersebut menerangkan isra’ Nabi Muhammad SAW, selanjutnya ayat 2 surah al –
Isra’ tersebut berbunyi:
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى
لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا
Artinya:
Dan
Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu
petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil
penolong selain Aku.”
Ayat
tersebut menjelaskan turunnya kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s. Persesuaian
atau korelasi kedua ayat tersebut sangat jelas, yaitu kedua Nabi dan Rasul
Allah SWT, (Muhammad SAW dan Musa a.s.) diusutus dalam rangka menyampaikan
hidayah Allah kepada manusia.
2. Persambungan yang tidak jelas (khafiyyu al–Irtibat) atau
samarnya persesuaian anatara bagian al–Qur’an dengan yang lain, sehingga tidak
tampak adanya pertalian untuk keduanya, bahkan seolah–olah masing–masing ayat
atau surah itu berdiri sendiri–sendiri, baik karena ayat yang satu itu diatafkan
kepada yang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lain.
Contoh
: seperti hubungan anatara ayat 189 Al–Qur’an Surah al–Baqarah dengan ayat 190
Al–Qur’an Surah al–Baqarah. Ayat 189 Al–Qur’an surah al–Baqarah berbunyi :
۞ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ
لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ
ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ
أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Yang
artinya :
Mereka
bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah
tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan
memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah
kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari
pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
Ayat tersebut menerangkan bulan
sabit atau tanggal masuknya waktu ibadah haji. Sedangkan ayat 190 Al-Qur’an
Surah al–Baqarah berbunyi :
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ
يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Yang
artinya :
Dan
perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah
kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas.
Ayat tersebut menerangkan perintah
menyerang kepada orang–orang yang menyerang umat Islam. Sepintas, antara kedua
ayat tersebut seperti tidak ada hubungannya, atau hubungan ayat yang satu
dengan yang lainnya samar. Padahal sebenarnya, ada hubungan anatara kedua ayat
berikut, yaitu ayat 189 Al-Qur’an Surah al–Baqarah mengenai soal waktu untuk
haji, sedangkan ayat 190 menerangkan sesungguhnya waktu ibadah hajiitu umat
Islam dilarang melakukan perang, akan tetapi jika umat Islam itu diserang
terlebih dahulu, maka serangan–serangan musuh itu harus dibalas, walaupun pada
musim haji.[4]
[1] M. Shalahudin Hamid, Study
Ulumul Quran, Jakarta, PT INTIMEDIA Ciptanusantara, 2007, hlm 65-70
[2] M. Shalahudin Hamid, Study
Ulumul Quran, Jakarta, PT INTIMEDIA CIPTANUSANTARA, 2007, hlm 293 – 294
[3] Hasani Ahmad Said, Diskursus Munasabah Al
Quran Dalam Tafsir Al-Misbah, Jakarta, Amzah, 2015, 1, hlm
[4] Abdul Jalal, ‘Ulumul Al Qur’an,.. , hlm 157
BAB
III
CARA–CARA
MENGETAHUI MUNASABAH
Untuk mengetahui muhasabah satu ayat dengan ayat lain
atau ayat sebelumnya dan sesudahnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
yaitu sebagai berikut :
1.
Topik inti yang diperbincangkan dalam ayat. Mufassir
perlu mengetahui permasalahan utama yang diperbincangkan oleh suatu ayat. Hal
ini dapat diketahui melalui istilah-istilah yang digunakan dan alur
pembicaraannya. Permasalahan utama itu mungkin terdapat pada ayat yang akan
ditafsirkan atau mungkin juga terdapat dalam ayat sebelumnya, di mana ayat yang
akan ditafsirkan itu subtopiknya atau penjelasan lebih jauh tentang
permasalahan utama.
2.
Topik inti itu biasanya mempunyai sub-subtopik. Jika topik inti telah
diketahui maka perlu pula dilihat dan dipahami hal–hal yang dicakupi oleh topik
inti tersebut.
3.
Sub–subtopik itu mempunyai unsur–unsur tersendiri
pula. Maka masing masing ayat, ada yang berbincang mengenai topik inti,
subtopik, dan ada pula yang memperbincangkan unsur–unsur yang ada pada
subtopik. Munasabah Al–Qur’an dapat dilihat dari sisi ini.
Sebagai contoh dapat dilihat dalam surah Al–Baqarah
(2) ayat 177 sampai 188. Secara zahir, ayat–ayat itu mungkin terlihat tiada
berhubungan anatara satu dengan yang lain, ayat 177 memperbincangkan tentang
kriteria orang–orang baik (al-birr), yaitu orang–orang yang benar–benar
bertakwa. Hai ini ditandai dengan beriman, beribadah, dan menjaga hubungan sosial,
seperti menepati janji dan membantu orang–orang yang tidak mampu. Sedangkan ayat
178 dan seterusnya membincangkan tentang hukum qisas, wasiat, puasa, dan
larangan mengambil harta orang lain dengan jalan yang batil.
Akan tetapi, jika dikaji secara mendalam,
akan terlihat bahwa ayat–ayat itu saling berkait dan berhubungan anatara satu
dengan yang lain. Ayat 177 mengandung topik utama perbincangan, yaitu konsep
takwa, dan beriman adalah memiliki keyakinan kepada Allah dan rukun iman
lainnya yang diaktualisasikan dalam bentuk ibadah ritual dan menjaga hubungan sosial, yang meliputi perhatian
kepada mereka yang tidak mampu dan pergaulan baik antar sesama seperti menepati
janji dan kesabaran.
Jadi, inilah topik utama perbincangan ayat
tersebut. Sedangkan ayat 178 sampai kepada 188 adalah aktualisasi lebih luas
dan rincian ketakwaan, keimanan, dan kebaikan itu. Dikemukakan pula bahwa orang
yang benar–benar baik, beriman, dan bertakwa itu berusaha menegakkan hukum
Allah, yaitu qisas, berwasiat, berpuasa, dan tidak mengambil harta orang lain
dengan jalan yang batil.
Maka
berpuasa merupakan aktualisasi keimanan dan ketakwaan kepada–Nya. Menegakkan
hukum qisas, selain dari realisasi kepercayaan yang penuh kepada Allah, juga
perwujudan dari perhatian terhadap manusia dan kemanusiaan. Demikian pula
wasiat dan larangan mengambil harta orang lain yang digambarkan dalam ayat–ayat
berikutnya.[1]
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwasanya munasabah dapat
diartikan menurut bahasa berarti persesuaian atau hubungan atau relevansi,
yaitu hubungan atau persesuaian ayat atau surat satu dengan ayat atau surat
sebelumnya atau sesudahnya. Adapun menurut istilah yaitu ilmu untuk mengetahui
alasan–alasan penertiban dari bagian–bagian Al–Qur’an yang mulia. Ilmu ini
menjelaskan tentang segi–segi hubungan antara beberapa ayat atau beberapa surah
Al–Qur’an. Pengertian ini tidak hanya memiliki makna persesuaian dalam arti
sejajar dan paralel saja, melainkan yang kontraksipun juga termasuk muhasabah.
Macam persesuaian ditinjau
dari segi sifat muhasabah atau keadaan persesuaian dan persambungannya,
maka muhasabah itu ada dua macam :
1.
Persesuaian yang nyata (zahir al–irtibat) atau
persesuaian yang tampak jelas.
2.
Persesuaian yang tidak jelas (khafiyyu al–Irtibat).
Macam persesuaian ditinjau dari segi materinya dalam al–Qur’an
sekurang kurangnya terdapat tujuh macam muhasabah yaitu :
1.
Muhasabah antara surat dengan surat sebelumnya.
2. Munasabah antara awal uraian surah dan akhir uraian surah.
3. Munasabah antara awal surah dan akhir surah sebelumnya.
4. Munasabah antara tema surah dan nama surah.
5. Munasabah antara penutup surah dan mukadimah surah berikutnya.
6. Munasabah antar kisah dalam satu surah
7. Munasabah antarsurah
8. Munasabah antara fawatih al–suwar dan isi surah.
Untuk mengetahui munasabah satu ayat dengan ayat lain atau ayat sebelumnya dan sesudahnya, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut.
1.
topik inti yang diperbincangkan dalam ayat. Mufassir
perlu mengetahui permasalahan utama yang diperbincangkan oleh suatu ayat.
2.
Topik inti itu biasanya mempunyai sub-subtopik. Jika topik inti telah
diketahui maka perlu pula dilihat dan dipahami hal–hal yang dicakupi oleh topik
inti tersebut.
3. Sub–subtopik itu mempunyai unsur–unsur
tersendiri pula. Maka masing masing ayat, ada yang berbincang mengenai topik
inti, subtopik, dan ada pula yang memperbincangkan unsur–unsur yang ada pada
subtopik.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Zaid, Nasr Hamid. 2016.Tekstualitas Al
– Qur’an. Yogyakarta : IRCiSoD
Ahmad Said, Hasani. 2015.Diskursus Munasabah AlQur’an Dalam Tafsir Al Misbah. Jakarta :
AMZAH
Anwar, Abu. 2002.Ulumul
Qur’an. Surabaya : AMZAH
Aziz,
Moh Ali. 2012. Mengenal Tuntas Al-Quran. Surabaya : IMTIAZ
Chirzin, Muhammad. 2003.Permata Al –
Qur’an. Yogyakarta : QIRTAS
Hamid, Shalahuddin. 2007.Study Ulumul
Qur’an. Jakarta : INTIMEDIA CIPTANUSANTARA
M. Yusuf, Kadar. 2014.Studi
AlQur’an. Jakarta : AMZAH
UIN
Sunan Ampel, MKD. 2013. Studi Al –
Qur’an. Surabaya : UINSA SA
Press
UIN
Sunan Ampel, MKD. 2014. Bahan Ajar Studi
Al – Qur’an. Surabaya : UINSA SA Press

MasyaAllah, semoga menjadi ladang pahala bagi penulis karena telah membagi ilmunya melalui artikel ini. Aamiin
BalasHapusMasyaAllah sangat bermanfaat sekali, terima kasih
BalasHapusMasyallah terimakasih sudah berbagi ilmu melalui blog ini,hasilnya memuaskan dan tentunya bermanfaat bagi pembaca:)
BalasHapusAlhamdulillah masih ada manusia yang masih ingat agama
BalasHapusAlhamdulillah
Saya bersyukur teman saya seperti ini
masyaAllah kakak terima kasih sudah membagikan ilmunya, semoga bermanfaat bagi kita semua ya kak
BalasHapusبرق فيه،،ما أجمل هذا المقالة،،جزاكاللّه خير...وينفع علينا آمين
BalasHapusSebelumnya terimakasih, semoga ilmu ini bisa bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.
BalasHapusMasyaallah, terima kasih atas penyaluran ilmunya. sangat bermanfaat untuk kita para pembaca
BalasHapusAlhamdulillah Masi ada jiwa muda yang peduli dan mengingatkan sesama muslim , semoga ilmu nya bermanfaat bagi semua umat khususnya agama Islam
BalasHapusMasyaAllah, terima kasih ilmunya, semoga bisa bermanfaat untuk semua. Dan bisa lebih baik lagi kedepannya
BalasHapusAah blognya bagus banget kak, aku jadi terharu deh kakak
BalasHapusMasyaallah akhi blognya bagus sekali dan isi artikelnya menarik untuk dibaca
BalasHapusTerimakasih sudah berbagi ilmu dan informasi nya semoga bisa bermanfaat untuk dunia dan akhirat
BalasHapuswaw, bermanfaat sekali kakak artikelnya. Jadi kepengen masuk surga masyaAllah
BalasHapusSemoga Ilmunya bermanfaat bagi pembaca dan mengalirkan pahala bagi penulis :)
BalasHapusجيد جدا ... نأمل أن تنتج أعمالا كتابية جيدة وصحيحة. انتظار الورقة التالية ...
BalasHapusAlhamdulillah saya mendapatkan ilmu baru, semoga ilmu ini dapat bermanfaat untuk semuanya Aamin
BalasHapusAlhamdulillah ilmunya semoga bermanfaat bagi yang lainnya untuk pembelajaran kita
BalasHapusMakalahnya sangat, bermanfaat bagi pengetahuan umum, agama, dan menambah wawasan.
BalasHapusMasyaallah, subhanallah, Alhamdulillah, luar biasa, semoga para pembaca bisa lebih luas wawasannya setelah membaca makalah ini.
BalasHapusSubhanallah, sangat bermanfaat sekali materi nya, semoga bisa menginspirasi oeang sekitar ya..
BalasHapusAlhamdulillah terima kasih atas ilmu yang kakak berikan, wawasan saya jadi lebih luas lagi. Semoga makalah ini juga bisa menambah wawasan para pembaca
BalasHapusMantap membantu banget nih
BalasHapusmasyaAllah, blognya sgt memberika informasi yg sgt menarik dan bermanfaat juga menambah wawasan saya. Terimakasih :))
BalasHapusSenoga bermanfaat untuk semua pembaca. Semangatt**
BalasHapusSangat bermanfaat . Terimaksih kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak,semoga berkah ilmunya kak semangat trus
BalasHapusalhamdulillah sangat bermanfaat kak bagi saya, penulis ini sangat berpotensi untuk masa yang akan datang.
BalasHapusآمل أن يكون المقال مفيدًا ، وآمل أن يكون أولئك الذين يقرأون قد حصلوا على المعرفة ، قد وصلوا إلى المقالة المثالية
BalasHapusAlhamdulillah, makasih ka ilmunya, sangat berguna
BalasHapusSangat bermanfaat bagi pembaca, ditunggu karya selanjutnya, sukses selalu kak
BalasHapusAlhamdulillah dapat ilmu baru, blognya sangat bermanfaat. Semoga kedepannya penulis lebih kreatif lagi:)
BalasHapusAlhamdulillah, makalah ini bermanfaat , semakin menambah pengetahuan kita, terimakasih kak
BalasHapusAlhamdulillah sgt bermanfaat
BalasHapusAlhamdulillah dapet ilmu baru. Makasihh kak:))
BalasHapusAlhamdulillah bermanfaat
BalasHapusAlhamdullilah sangat bermanfaat sekali ilmunya semoga jadi berkah buat semua
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusBetul-betul bermanfaat menambah wawasan bagi kita
BalasHapusalhamdulillah ilmunya semoga bermanfaat
BalasHapusMasyaallah, tulisan yang sangat bermanfaat. terimakasih sudah berbagi ilmunya, semoga terus membuat hal-hal yang bermanfaat bagi banyak orang
BalasHapusSangat bermanfaat❤
BalasHapusalhamdulillah makalah ini sangat bermanfaat bagi para pembaca, ditunggu karya selanjutnya ya kak
BalasHapusSebelumnya terimakasih atas ilmunya, seboga bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.
BalasHapusTerima kasih gan, infonya sangat membantu buat saya
BalasHapusmasyaallah mas arya sungguh menginspirasi kalo saya boleh request topik bisakah mas bahas tentang perzinahan? terima kasih sebelumnya semoga sukses mas
BalasHapussubhanaallah masyaallah makalahnyaa sangat membantuu materinya juugaa mudah diapahami semoga kedepannya makin baik lagi aamiin aamiin
BalasHapusBerkat tulisan ini saya tahu bahwa tiap ayat-ayat di dalam Al-Qur'an itu saling berkaitan. Teruskan menulis!
BalasHapusMakalahnya bagus sekali kak,semoga bermanfaat bagi para pembaca dan menginspirasi para pembaca aminnnn
BalasHapusAlhamdulillah dengan ini dapat menambah wawasan dan memperdalam ilmu terimakasih
BalasHapusterimakasih, isinya sangat membantu dan menambah wawasan. sukses slalu dalam membagikan ilmu yang bermanfaat seperti ini.
BalasHapusTerima kasih,karna makalah ini saya bisa mengerjakan tugas saya.sukses selalu ya buat penulisnya
BalasHapusMasaAllah setelah baca blog ini saya bisa merasakan keberkahan ilmu yg dibagikan,thx ya
BalasHapusAlhamdulillah saya terinspirasi dari blog ini saya bisa menambah ilmu dan ketaqwaan saya :(
BalasHapusTerimakasih kak blognya sangat bermanfaat untuk mengerjakan tugas
BalasHapusmakasih kak blognya sgt bermanfaat, semoga bisa lebih baik lagi kak👏
BalasHapusSangat bermanfaat bagi seluruh uinsa khususnya kemajuan bangsa kita indonesia
BalasHapusTerimakasih author atas sharing ilmunya, saya jadi terbantu dalam memahami materi ini. Semoga ilmunya bisa menjadi berkah kepada kita semua
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusjazakumullah khairan, salut banget atas blog yg telah anda bagikan, sangat membantu dan bermanfaat bagi si pembaca. Semangat terus untuk si penulis,jangan lupa bahagia kakak 💪🏼
BalasHapusAlhamdulillah sangat bermanfaat👍
BalasHapusTerima kasih sesudah saya membaca ini jadi terinspirasi mengerjakan matematika
BalasHapusMasyaAllah sangat bermanfaat sekali materinya, terima kasih banyak
BalasHapusMon maap, komennya aga beda sama yg lain, ada sedikit koreksi, sebuah blog lebih apik tidak menyertakan daftar isi dng halamannya, jika memang ingin menyertakan daftar isi, beri fitur hyperlink sehingga pembaca tidak kebingungan sampai bagian mana mereka membacanya
BalasHapusSekian dan terima kasih
Masyaallah terimakasih atas sarannya
HapusSemoga ilmunya manfaat, dan membawa berkah bagi pembaca maupun penulis
BalasHapusterima kasih, semoga ilmunya dapat bermanfaat bagi kita semua
BalasHapus